Artikel Hadits  Kembali

Meraih Keberkahan Harta
Oleh : Ustadz Muslih Rasyid

عن أنس رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عن أمّ سُلَيم أَنَّها قَالتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَسٌ خَادِمُكَ ادْعُ اللَّهَ لَه،ُ قَالَ: «اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ»

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Ummu Sulaaim berkata, ya Rasulullah bahwa Anas pelayananmu, mohonkan kepada Allah untuknya; Beliau berdoa: “Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, dan berkahilah ia pada apa yang Engkau karuniakan kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist  

  1. Ketahuilah bahwa yang terpenting dalam urusan harta dan rizki bukanlah pada sedikit atau banyaknya. Yang terpenting adalah keberkahannya.
  2. Tidak ada kebaikan pada harta yang banyak jika tidak berkah. Dan beragam kebaikan akan muncul pada harta yang disertai keberkahan di dalamnya.
  3. Arti dari keberkahan,
    البركة هي ثبوت الخير الإلهي في الشيء
    “Barakah adalah tetapnya kebaikan ilahi pada sesuatu.”
  4. Maka seorang mukmin, yang dicari dalam seluruh sisi kehidupannya di dunia ini adalah keberhakannya. Termasuk dalam urusan harta. Karena banyaknya harta tidak menjamin kebahagian dan kecukupan.
  5. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, kekayaan itu adalah kekayaan jiwa.” Muttafaq ‘alaih.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al qur'an :

  1. Allah menyebutkan, bahwa ada diantara manusia yang justru Allah siksa dengan harta kekayaannya.
     فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
    “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam Keadaan kafir.” (QS. At Taubah: 55)
  2. Banyaknya harta juga bisa jadi termasuk istidraj,
    وَٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا سَنَسۡتَدۡرِجُهُم مِّنۡ حَیۡثُ لَا یَعۡلَمُونَ وَأُمۡلِی لَهُمۡۚ إِنَّ كَیۡدِی مَتِینٌ
    “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan) (Istidraj), dengan cara yang tidak mereka ketahui. dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku Amat teguh.” (QS. Al A’râf: 182-183)
  3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba (kenikmatan) dunia yang disukainya padahal ia suka bermaksiat, maka itu adalah istidraj.” Kemudian beliau membaca firman Allah,
    فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَیۡهِمۡ أَبۡوَ ٰ⁠بَ كُلِّ شَیۡءٍ حَتَّىٰۤ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَاۤ أُوتُوۤا۟ أَخَذۡنَـٰهُم بَغۡتَةࣰ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ
    “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’âm: 44).


Sumber : ONE DAY ONE HADITS