Artikel Hadits  Kembali

Rizki Anak Cucu Adam
Oleh : Ustadz Muslih Rasyid

عَنْ جابرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  ((لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهَرَبُ مِنَ الْمَوْتِ؛ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ))

Dari Jabir radhiyallahu anhu berkata, berkata rasulullah sallallahu alaihi wa salam: “Seandainya anak adam lari dari rizkinya sebagaimana dia lari dari mautnya, maka niscaya rizkinya akan mengejarnya sebagaimana maut mengejarnya.” [Hr Ibnu Hibban]

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

  1. Maksudnya, andai kata anak Adam itu telah lari dari rizkinya sebagaimana dia lari dari kematian. Niscaya rizki itu mengejarnya sebagaimana kematian juga mengejarnya.
  2. Maka tidak mungkin anak cucu Adam itu tidak mendapatkan rizki, karena Allah telah menetapkan rizki kepada mereka, bahkan mereka itu dikejar rizki, bukan mereka yang malah mengejar rizki.
  3. Manusia tidak akan mampu menghindari rizki sebagaimana mereka yang tidak akan mampu terhindar dari kematian. Karena sunatullahnya siapa yang hidup pasti mati, dan siapa yang hidup pasti masih dikaruniai rizki oleh Allah.
  4. Manusia di dalam hidup ini sudah Allah tetapkan, jatah, nasib kehidupan dunia dan rezekinya. 
  5. Dengan demikian, seharusnya manusia itu yakin 100% bahwa hidup ini telah diatur oleh Allah, bahkan rizki itu sendiri yang akan menghampiri manusia. Maka tidak perlu membabi buta untuk mendapatkan rizki, tidak perlu terlalu “ngoyo” untuk mendapatkan rizki. Kaki jadi kepala, kepala menjadi kaki, siang kerja, malam kerja, berangkat pagi pulang tengah malam. Hingga lupa waktu, lupa Allah, lupa keluarga dan anak istri.
  6. Namun, karena rendahnya iman, manusia terkadang lupa bahwa yang menciptakan mereka adalah Allah, yang menjadikan mereka hidup adalah Allah, serta yang memberi mereka rizki adalah Allah. Sehingga banyak dari mereka yang bersusah payah mengejar rizki tapi malah lupa kepada Allah. Padahal jelas, seperti yang tertera pada hadis di atas, bahwasanya manusia itu disetting oleh Allah dikejar rizki bukan mengejar rizki.
  7. Jika demikian, maka yang harusnya kita lakukan adalah ihtiar, berdoa dan bertawakkal kepada Allah, karena wajib hasil itu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Menerima semua yang diberikan oleh Allah dan selalu syukur atas apa saja yang telah diberikanNya. Tidak perlu nggersulo dan terus merasa kurang, karena yang demikian itu akan membuat seseorang tidak pernah puas terhadap pemberian Allah kepadanya.
  8. Bahkan hanya karena kemiskinan, kemudian menghalalkan segala cara hingga mencari harta haram. Apalagi mengikuti prinsip orang "yang haram saja susah, apalah yang halal". Korupsi dihalalkan, suap-menyuap menjadi bagian hidup. Bisnis-bisnis haram dia lakukan, jual diri, bahkan membuat proposal untuk mendapatkan bantuan dana yang itu dialamatkan kepada yayasan, anak yatim, pembangunan masjid dan lain sebagainya. Na’udzubillah.
  9. Orang yang seperti itu adalah orang yang putus asa, serta lupa kepada Allah. Apa yang dilakukan tidak lagi diniati lillahi ta’ala serta merujuk kepada al-quran dan al-hadis. Jika sesuatu itu jelas-jelas haram maka tinggalkanlah, karena sesungguhnya yang halal itu masih berlimpah dan masih mudah untuk kita dapatkan.
  10. Yakinlah bahwa selagi kita masih hidup, berarti Allah masih memberi rizki kepada kita. 'Tidak ada satupun orang diantara anak Adam meninggal dunia, sebelum disempurnahkan semua rezekinya. Telah dilengkapi semua rezekinya. Wallahu a’lam......

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur'an:

  • Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan bahwa Dialah yang menjamin rezeki makhluk­Nya, termasuk semua hewan yang melata di bumi, baik yang kecil, yang besarnya, yang ada di daratan, maupun yang ada di lautan. Dia pun mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. 
    وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
    Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).[ Hud:6].


Sumber : ONE DAY ONE HADITS  alhadist.com